Ini hanya kata-kata, selebihnya terserah anda....

Jumat, 23 Mei 2008

Diposting oleh anggiaribowo

Bandar Lampung, 07022008/11.00

Ini sebenarnya cerpen untuk membuang waktu malamku yang gak bisa tidur.... jadi daripada bengong2 sendiri, mendingan duduk depan komputer, nulis, moga-moga ada yang baca....
kalo baca jangan lupa kasih comment yaa. thanks

AWAL SEBUAH PERJUANGAN
(Akhdan Zufar)

Seorang Pemuda Ditemukan Tewas dengan Luka Bacok Sekujur Tubuh. Judul berita di koran itu membuatku tertahan untuk membaca tulisan itu. Lemas sekujur tubuhku.
Kemarin pertemuan kami membahas aksi penolakan pendirian pabrik pengolahan tepung di desa kami, selesai pukul sebelas malam. Selesai di sana, semua pulang ke rumah masing-masing, hanya tinggal Tanto, aku, dan Parman, yang tersisa di rumah Parman, kami masih ingin membahas soal rencana pembangunan pabrik pengolahan tepung di kampung kami, bukan kami menolak rencana pembangunannya, tapi setelah kami tahu kalau limbah pengolahan bahan tepung itu akan di aliri ke sungai, kami pemuda Desa Setodadi menolak dengan tegas. Berapapun ganti kerugian yang ingin diberikan kepada masyarakat, tetap saja tidak seberapa, dibandingkan dengan keruskan alam dan lingkungan.
Semua masyarakat Desa Setodadi, mengambil kebutuhan air di sungai yang mengalir deras dari hulu sungai Bengawan itu, bayangkan, kalau air itu tercemar.
Karena itu, pemuda desa sepakat untuk menentang rencana ini. Malam ini, pertemuan kami yang ketiga, rumah Parman yang kami jadikan tempat berkumpul. Hadir malam itu sekitar lima belas orang pemuda, yang mempunyai pandangan sama dengan kami. Sesuai kesepakatan malam itu, besok jam sepuluh tepat, kami akan bergerak dari Balai Desa menuju kantor kecamatan untuk berunjuk rasa. Masing-masing orang siap dengan tiga puluh orang. Artinya, kalau semuanya terkumpul, berarti lima belas dikali tiga puluh orang, 450 orang. Jumlah yang sangat banyak untuk menunjukkan kekuatan kami. Komandan kami dalam aksi ini adalah Tanto. Ketua Paguyuban pemuda desa kami. Pintar, berperawakan kecil, supel dan sholah. Selesai kuliah di kota, ia kembali ke desa, membangun masyarakat katanya. Karena hanya dialah satu-satunya pemuda bergelar sarjana, maka ia sering didaulat menjadi pemimpin di antara kami. Dia juga yang memberikan pengertian pada masyarakat desa tentang bahayanya limbah pabrik pengolahan tepung itu terhadap sungai dan kehidupan kami.

***
Lima ratus warga sudah berkumpul di Balai Desa sejak pagi. Lebih dari perhitungan semalam. Aku, Tanto, dan yang lainnya sudah datang. Lengkap dengan spanduk, karton, dan ikat kepala bertuliskan kata-kata penolakan. Semua siap menunggu komando Tanto untuk bergerak. Pukul sepuluh tepat, kami iring-iringan massa bergerak ke kantor kecamatan, dua kilometer kami berjalan. Sambil berjalan, Tanto, Parman, aku, Toto, Amir, Subhan, bergantian berorasi berbekal sebuah megaphone memberi semangat, meneriakkan yel-yel.
Ketika Subhan berorasi.
“Man, kedatangan kita sudah ditunggu oleh pejabat Kecamatan.”
“Mereka sudah tahu ?” selidikku.
“Dari dua hari yang lalu.” Tambah Tanto.
“Bahkan semalam sepulang dari rapat kita. Tengah malam, di rumah aku didatangi tiga orang suruhan Pak Camat. Mengancam kalau aku melanjutkan unjuk rasa ini. Pasti ada apa-apa denganku nanti !”
“Mereka juga memberi sedikit oleh-oleh kepadaku” Tanto menjelaskan sambil memperlihatkan bibir bagian dalamnya yang sobek.
“Aku dipukul mereka !”
“Kenapa kamu baru cerita To !” kataku sedikit marah.
“Ah biar saja, aku gak ingin semangat teman-teman dan warga turun gara-gara hal ini. Aku minta kamu juga gak usah cerita ke teman-teman, apalagi ke warga soal semalam.”

***
Pak Wiradi Wijaya, camat kami itu memang mempunyai banyak catatan di mata masyarakat. Sebelum jadi camat, dia adalah tuan tanah, punya banyak anak buah, menyerobot tanah warga dengan harga sangat murah, kalau tidak mau dijual, anak buahnya tak segan-segan mengancam bahkan menyakiti warga, tanah itu kemudian dijual lagi dengan harga setinggi langit. Dia menjadi camat pun karena permainan uang, setelah jadi camat, bukannya mengurusi warga, tapi memperkaya diri sendiri. Pabrik pengolahan tepung itu contohnya, karena pemilik pabrik kenal baik dengan Pak Wiradi, maka proses pembangunannya diperlancar, walaupun banyak sekali pelanggarannya.
Jadi sekarang, warga ingin meminta ketegasan camat, menolak pendirian pabrik pengolahan tepung itu.

***

Iring-iringan massa mulai memasuki halaman kantor kecamatan. Hanya dalam hitungan detik, halaman yang tidak seberapa luas itu dipenuhi manusia, pria, wanita, muda, tua, anak-anak, semua merangsek maju. Tidak muat di halaman, sebagian besar warga mengambil tempat di luar pagar, melebar hingga badan jalan.
Atas undangan Tanto, beberapa orang juru tulis dan wartawan sudah hadir.
“Saudara-saudara... Tahukah saudara sedang apa kita di sini ... ?” Tanto mengawali orasinya.
“Kita di sini ingin memperjuangkan hak kita. Hak sebagai warga yang tersisihkan!”. Warga bersorak, sepakat dengan kata-kata Tanto.
“Saudara-saudara, kita di sini beramai-ramai punya satu tujuan. Kita ingin pendirian pabrik dihentikan. Tutup ... tutup ... tutup ... !”
“Tutup ... tutup ... tutup ... !” warga mengikuti yel-yel yang dipekikkan Tanto.
“Saudara-saudara kita minta Pak Wiradi keluar dari kantornya... !”
Kembali ia mengomandoi warga,” Keluar... keluar ... keluar ... !”
Warga mengikuti,” Keluar... keluar ... keluar ... !”
Dari balik jendela tiga pasang mata menyaksikan kerumunan warga dan mendengarkan sang orator berkata-kata,” Kalau tidak keluar, kita akan dobrak pintu ini...!”
Tidak jauh dari situ, aku tahu kenapa Tanto begitu bersemangat. Ia mencintai warga desa ini, cinta pada lingkungan sungai, dan lebih-lebih ingin menghentikan kesewenang-wenangan Pak Wiradi, camat kami yang korup.
Sudah dua puluh menit Tanto berorasi bergantian dengan Amir, belum ada tanda-tanda camat korup itu menemui warga yang sudah mulai emosi.
Lima menit kemudian...
“Maafkan saya saudara-saudara... saya harus berhubungan dulu dengan pihak-pihak yang terkait dengan masalah ini. Sehingga saya hadir agak lama di sini.” Camat Wiradi keluar dari kantornya, dikawal beberapa anak buahnya.
“Saya akan berusaha semaksimal mungkin menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik.” Camat Wiradi menjelaskan lagi.
“Beri saya kesempatan. Masalah ini tidak bisa selesai dalam sekejap !”
Warga terdiam terkesiap mendengar Camat Wiradi berkata-kata.
Melihat itu,” Saudara-saudara, kita sudah mendengar Pak Camat berjanji. Ayo kita tunggu janji beliau diwujudkan. Kita pulang ke rumah. Menunggu sampai tiga hari, kalau tidak ada titik terang, kita akan kembali ke sini dengan jumlah yang lebih banyak...!”
“Sepakatttttt...!” warga menyambut seruan Tanto.
Tanto melirik ke arahku, tersenyum penuh kemenangan.

***

Besok hari ketiga dari janji yang diucapkan oleh Camat Wiradi kepada warga.
Semua warga desa berkumpul di rumah Tanto. Bukan menyiapkan rencana unjuk rasa besok hari. Tapi semuanya tertunduk, kehilangan seorang pemimpin.
Tanto ditemukan tewas dengan luka bacok sekujur tubuh di pematang sawah tidak jauh dari masjid desa. Menurut warga, Tanto disergap tiga orang menggunakan penutup wajah ketika akan berangkat sholat shubuh berjamaah pagi ini.
Semua kehilangan, semua putus asa, ditinggal pemimpinnya menentang Camat Wiradi yang korup itu.
“Man, langkah kita masih panjang, perjuangan warga belum berakhir...!” kata Tanto kepadaku sesaat usai unjuk rasa dua hari lalu.
Dari matanya kemarin aku melihat harapan dan perjalanan yang sangat jauh.

***
Tanto, warga, sungai, pabrik, janji, unjuk rasa, pembunuhan, tiga pelaku, camat korup.
“Aku tahu To ... aku tahu ...” sambil tersenyum kecut kubuka kembali koran hari ini.
Seorang Pemuda Ditemukan Tewas dengan Luka Bacok Sekujur Tubuh.
Akan kuteruskan perjuanganmu.

***

0 komentar: